IMC

Desain tanpa judul (18)

Medianya Mahasiswa ITB-MG

Di masa yang serba materialistik ini hampir semua hal dinilai dengan materi. Kehormatan dan kedudukan disematkan kepada mereka yang memiliki materi melimpah. Ringkasnya, mereka yang memiliki rumah megah, mobil mewah dan pernik-pernik duniawi lainnya mendapatkan segala penghormatan dan penghargaan di tengah masyarakat. Kenyataan ini membuat materi dan turunannya menjadi tuhan baru yang disembah dan diupayakan dengan berbagai cara dan seringkali tak perduli aturan agama. Pada akhirnya, materi menjadi motivasi yang melandasi setiap orang dalam berbuat, dalam segala hal termasuk menuntut ilmu.

Sadar atau tidak, sebagian besar dari kita menuntut ilmu agar memperoleh pekerjaan bagus dan bisa menghasilkan uang banyak. Semuanya diukur dengan materi, menjadikan materi sebagai poros semua aktivitas. Hal inilah yang membuat perbuatan kita menjadi tidak ada nilainya di hadapan Allah. Kenapa? Karena kita melupakan Allah dalam beraktivitas, baik dalam niat maupun pelaksanaannya.

Persepsi yang berkembang inilah yang kemudian membuat generasi saat ini menjadi generasi materialistik, kurang bersemangat menuntut ilmu, karena menganggap materilah yang bisa mengantarkan kemuliaan dan keutamaan. Orang lebih suka bersusah payah mengumpulkan materi dibandingkan menuntut ilmu karena beranggapan materi lebih utama

Lantas bagaimana sebenarnya kedudukan ilmu dalam Islam?

Pentingnya ilmu dalam Islam bisa dilihat dari Hadits-hadits dan ayat-ayat Al Qur’an berikut ini.

Mencari Ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim. (HR. Ibnu Adi dan Baihaqi).

Sabda Rasulullah saw. di atas menggambarkan bahwa umat Muslim adalah umat yang mencintai ilmu pengetahuan. Banyak nash al-Quran maupun Hadis Nabi menyebutkan keutamaan mencari ilmu dan orang-orang yang berilmu. Allah Swt. antara lain berfirman:

Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat. (TQS al-Mujadalah [58]: 11).

Nabi saw. juga antara lain bersabda:

Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan jalan baginya menuju surga. (HR Muslim dan at-Turmudzi).

Kata ilman pada hadis di atas bersifat umum, artinya mencakup segala macam ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, tidak ada larangan dalam Islam untuk mempelajari pengetahuan apapun selama tidak bertentangan dengan akidah Islam.

Ada perbedaan nyata antara motivasi seorang Muslim dan non-Muslim dalam mencari ilmu. Yang mengisi dada seorang Muslim dalam mencari ilmu adalah dorongan ruhiyah untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk mengejar faktor duniawi semata. Seorang Muslim giat belajar karena terdorong oleh keimanannya, bahwa Allah sangat cinta dan memuliakan orang-orang yang mencari ilmu dan berilmu. Hal inilah yang tampak jelas pada kehidupan generasi para sahabat dan tabi’in serta tabi’ at-tabi’in. Ketika Imam Syafi’i rahimahullah ditanya orang mengenai ikhtiarnya dalam mencari ilmu, ia menjawab, “Seperti seorang perempuan yang kehilangan anaknya, padahal ia tidak mempunyai anak selainnya.” (K.H. Moenawar Chalil, Biografi Empat Serangkai Imam Madzhab). Begitu luar biasanya upaya Imam Syafi’i menuntut ilmu, digambarkan seperti seorang ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang, sudah pasti akan mengerahkan segenap upaya dan sumber daya.

Maka wajar jika pada zaman keemasan Islam, banyak sekali ilmuwan muslim bermunculan. Mereka berlomba-lomba menuntut ilmu karena paham betapa Allah memandang tinggi orang-orang berilmu.

Dengan demikian, motivasi yang seharusnya mendasari seorang Muslim dalam menuntut ilmu bukanlah materi, tapi karena kecintaan kepada Allah dan upaya meraih ridho-Nya dengan cara menjalankan kewajiban yang dibebankan oleh-Nya.  Dan lagi, seorang muslim yang tidak meluangkan waktunya untuk mencari ilmu telah berdosa dan telah menutup diri dari kemuliaan yang akan dilimpahkan Allah kepadanya.

Wallaahu A’lam

Oleh : Hadi Tanuji