IMC

Desain tanpa judul (18)

Medianya Mahasiswa ITB-MG

BISNIS FLEXING
Oleh : Joko Intarto
——-
Mungkin bukan gara-gara demam flexing, toko perhiasan yang satu ini menemukan ide kreatif dalam marketing: Menyewakan aneka perhiasan. Outletnya dibuka di sebuah hotel berbintang lima.


Beberapa waktu yang lalu, media sosial diwarnai dengan fenomena flexing. Banyak orang tampil dengan berbagai perhiasan mahal demi membangun citra.Ternyata tidak perlu punya perhiasan mahal untuk terlihat sebagai orang kaya. Sebab, semua perhiasan emas dan permata yang menawan itu bisa disewa. Beneran?


Saya sedang menuju mushola di ujung lorong hotel bintang lima di Jakarta Pusat. Dua puluh meter sebelum lokasi mushola, ada dua outlet yang memajang aneka perhiasan emas, perak dan batu-batu permata. Dua outlet itu milik satu perusahaan. Namanya sama. Hanya berbeda ukuran gerai saja. Selembar brosur yang terpasang di atas lemari display berbahan kaca itu menarik perhatian saya: Ternyata berisi tawaran sewa perhiasan. Saya berhenti sejenak. Saya ingin tahu bagaimana caranya menyewa. Bukan karena benar-benar mau menyewa. Hanya penasaran saja.
Ternyata metodenya sangat kreatif:
1. Outlet menawarkan semua perhiasan koleksinya di marketplace.
2. Anda harus membeli perhiasan itu melalui marketplace. Harga sewa ditetapkan 10% dari harga jual yang tertera.
3. Kalau tinggal di Jabodetabek, Anda mendapat hak sewa 3 hari. Kalau tinggal di luar Jabodetabek, Anda mendapat masa sewa 6 hari.
4. Sebelum jatuh tempo, Anda bisa mengembalikan perhiasan tersebut. Outlet akan mengembalikan uang pembelian sebanyak 90%.

Model bisnis penyewaan seperti itu menjawab penasaran saya: Bagaimana kalau perhiasan yang disewa dibawa kabur penyewa? Atau ditukar dengan perhiasan palsu? Gak bahaya taaaah?
Rupanya untuk menyewa, konsumen harus membayar lunas seharga perhiasan yang dipilihnya. Setelah masa sewa habis, konsumen mengembalikan barang sekaligus menerima 90% uang yang telah dibayarkan.


Dengan demikian, pedagang perhiasan tidak punya risiko. Mitigasi risikonya layak ditiru.
Sebenarnya saya ingin ngobrol dengan pramuniaganya. Tapi saya putuskan ke mushola dulu agar waktu ngobrolnya lebih leluasa. Apes. Sepulang dari mushola, dua outlet itu sudah tutup.(jto)