IMC

Desain tanpa judul (18)

Medianya Mahasiswa ITB-MG

Hukum Steve Jobs

Oleh: Joko Intarto

——–
Mana yang lebih menentukan keberhasilan: Sarana yang canggih atau kesiapan manusianya? Mari kita belajar dari perjalanan Apple yang sukses menciptakan dua produk fenomenal: I-Pod dan I-Phone.
——–

Apple bukan perusahaan pertama yang memproduksi komputer. Apple juga bukan penemu smartphone. Tetapi produk Apple yang menggunakan sistem operasi eksklusif (I-OS), berhasil menjadi pemain kuat meski dikeroyok ratusan pesaing yang mennggunakan sistem operasi Android (smartphone) maupun Windows (komputer). Nama Apple mulai menjadi perbincangan luas sebagai perusahaan pertama yang memperkenalkan smartphone dengan touch screen keyboard yang revolusioner dengan nama I-Phone pada 9 Januari 2007.

I-Phone hadir dengan konsep touch screen keyboard menyatu dengan layar utama. Sedangkan telepon pintar generasi sebelumnya memisahkan bagian keyboard dengan bagian layar. Penyatuan keyboard dengan layar dilakukan melalui riset perilaku pengguna smartphone. Para pemakai gadget menginginkan layar yang lebih luas, tetapi tidak mau memegang alat yang lebih besar.

Nokia sebagai pemimpin pasar mencoba menjawab dengan produk communicator berkonsep smartphone lipat: Sisi satu untuk layar. Sisi lainnya untuk keyboard. Meski sukses di pasar, penggunanya masih mengeluh karena gadget terlalu tebal. Seperti memegang sebongkah batu bata.

Keberhasilan Apple sebenarnya bukan berawal dari I-Phone, melainkan I-Pod. Pemutar lagu digital berukuran mungil itu dalam waktu singkat berhasil menjadi Walkman killer setelah merajai pasar selama 3 dekade.

Pada tahun 1979, Sony memperkenalkan sebuah produk pemutar lagu berukuran kompak dengan nama Walkman. Produk ini merupakan generasi baru perangkat elektronik yang dikenal dengan sebutan tape compo.

Menjadi produk sukses, Walkman bukan berarti tanpa kelemahan. Apple menangkap keluhan utama pengguna Walkman adalah terbatasnya jumlah lagu yang bisa disimpan dalam satu cassette. Dari sinilah Apple menangkap adanya kebutuhan produk baru.

Pada 2001, Apple menciptakanpemutar musik digital berukuran kecil dengan kemampuan menyimpan 1.000 lagu dalam data digital. Apple menamakan baru itu: I-Pod.

Berbeda dengan Walkman, I-Pod memungkinkan penggunanya untuk membuat playlist berisi konten yang diatur sendiri. Memproduksi konten-konten unik menjadi kegemaran baru anak-anak muda: Rekaman lagu indie.

Industri media siaran radio termasuk yang menikmati manfaat dari kehadiran I-Pod. Rekaman talkshow dari studio radio yang tak sempat didengarkan pendengarnya, kemudian didistribusikan secara digital sehingga bisa didengarkan setiap saat melalui I-Pod.

Dari sinilah muncul istilah ‘’podcast’’: Penyebaran rekaman siaran langsung dari studio radio melalui perangkat I-Pod.

Dalam berbagai artikel, Steve Jobs, CEO Apple saat itu, menyampaikan pelajaran penting di balik sukses perusahaannya: Apple tidak memulai sukses dengan menciptakan alat yang canggih, melainkan memahami perilaku masyarakat kemudian menyediakan alat yang memenuhi harapan mereka.

‘’I-Phone adalah perangkat digital dengan berbagai fitur yang sangat canggih. Tapi kalau tidak ada orang yang menggunakan, I-Phone tak lebih dari sebongkah batu yang bodoh.’’

Pernyataan Steve Jobs itu 100% benar. Keberhasilan tidak bisa mengandalkan pada kehebatan alat semata. Sehebat apa pun teknologinya, sebuah alat tidak bisa bekerja sendiri. Butuh orang yang bisa mengoperasikan, agar alat canggih itu tidak menjadi batu.(jto)