IMC

Desain tanpa judul (18)

Medianya Mahasiswa ITB-MG

IMPLEMENTASI AYO RUKUN DALAM MENGATASI MASALAH PERUNDUNGAN, AKSI INTOLERANSI DAN KEKERASAN DI SMA NEGERI 1 GEYER dengan Program SAHABATKU ( Satu Hari Curhat Bersama Wali Kelasku )

IMPLEMENTASI AYO RUKUN DALAM MENGATASI MASALAH PERUNDUNGAN, AKSI INTOLERANSI DAN KEKERASAN DI SMA NEGERI 1 GEYER dengan Program SAHABATKU ( Satu Hari Curhat Bersama Wali Kelasku )

Oleh : Yoyok Adi Hermawan, S.Pd.

          Pendidikan menjadi suatu aspek penting yang tidak dapat dilepaskan dalam kehidupan manusia. Pendidikan adalah suatu bentuk usaha manusia untuk membantu jiwa anak didik meraih peradaban yang lebih baik dan bersifat berkelanjutan (Sujana, 2019). Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana yang dilakukan pada proses pembelajaran guna menciptakan manusia yang memiliki berbagai potensi baik spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadiaan, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang dibutuhkan dalam menjalani kehidupan yang berdampak baik untuk dirinya, masyarakat, bangsa maupun negara. Pendidikan jika dilihat dari lingkungan pelaksanaannya terbagi menjadi tiga yaitu pendidikan formal atau sekolah, pendidikan informal atau keluarga dan pendidikan nonformal atau masyarakat. Dari ketiga lingkungan tersebut, dibutuhkan kehendak untuk saling bersinergi atau mempengaruhi satu sama lain sehingga mampu mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan baik (Adawiyah et al., 2016; Budiarti et al., 2017; Nurdiana et al., 2022).

Tujuan pendidikan dalam realita kehidupan di masyarakat tersebut sampai saat ini tidak sepenuhnya berjalan sesuai harapan karena tidak sedikit isu negatif yang menggiring pelaksanaan pendidikan. Salah satu isu tersebut adalah bullying atau perundungan. Bullying merupakan suatu fenomena yang mana seseorang memiliki perilaku menyimpang dan memiliki keinginan untuk membuat orang lain menderita baik secara fisik maupun mental. Bullying juga dapat diartikan sebagai suatu bentuk kekerasan atau penindasan yang dilakukan oleh satu orang atau kelompok yang merasa lebih kuat dan berkuasa dari yang lain sehingga membenarkan segala tindakannya yang menganggu kehidupan orang lain yang dilakukan secara sengaja atau tidak dan berjalan secara terus menerus. Dan tindakan bullying tersebut dapat terjadi di lingkungan manapun baik rumah, sekolah maupun masyarakat dunia maya atau media sosial dan lainnya (Noviana et al., 2020; Prasetyo, 2011; Sujana, 2019).

Bullying merupakan suatu fenomena yang mana seseorang memiliki perilaku menyimpang dan memiliki keinginan untuk membuat orang lain menderita baik secara fisik maupun mental. Bullying menjadi salah satu permasalahan sosial yang dapat terjadi kapan saja, dimana saja dan dialami atau dilakukan siapa saja baik secara terencana maupun tidak sengaja.

Program SAHABATKU yang dilakukan pada hari rabu setiap minggunya bertujuan untuk mendekatkan siswa di kelas bersama wali kelasnya. Karena berdasarkan pengamatan kami, siswa kurang dekat secara sosial dan emosional dengan wali kelanya. Sehingga menimbulkan jarak sosial. Hal ini akan berakibat, siswa akan kurang proaktive dalam kegiatan pembelajaran. Siswa akan merasa kurang perhatian. Wali kelas akan sulit melakukan identifikasi masalah siswa di kelasnya.

Program SAHABATKU di rasa menjadi solusi, karena secara teknis intensitas pertemuan siswa dengan walinya akan lebih banyak. Hal itu diharapkan akan membentuk sense of belogging/rasa saling memiliki antar siswa dan wali kelas.

Foto 1. Wali Kelas bersama siswa mengawali SAHABATKU dengan sarapan bersama

Dalam kegiatan sahabtku terdapat berbagai macam kegiatan yang dilakukan oleh wali kelas bersama siswa . Sarapan bersama merupakan kegiatan untuk mengawali SABAHATKU. Hal ini bertujuan untuk mengakrabkan kondisi kelas antara siswa dan wali dibalut kegiatan santai yakni sarapan bersama. Selain itu, kami sekolah memiliki misi untuk tetap menjaga dan melakukan sarapan sehat guna kebugaran siswa kita. Program SAHABATKU sangat fleksibel dilakukan oleh wali kelas. Setelah sarapan bersama mulailah kegiatan  curah pendapat, curah masalah yang di hadapi siswa, ataupun wali kelas memantau kehadiran siswa. Dalam hal curah pendapat, SABAHATKU memberikan pelang bagi anak untuk berdialog dua arah dengan sekolah melalui wali kelas. Keluhan – keluhan siswa berkaitan dengan program sekolah, pelayanan sekolah atau sarrana bisa di ungkapkan dalam kegiatan ini.

Foto 2. Kegiatan SABAHATKU di lakusanakan di lapangan integrasi kegiatan sosialisasi anti perundungan

Masalah tidak mengenal siapa yang akan menerima . Semua orang pasti memiliki  masalah tak terkecuali siswa. Siswa ketika masuk sekolah, mereka akan membawa masalahnya masing masing. Baik masalah keluarganya, masalah pertemanan mereka sampai maslaah romantika mereka.  Maka dari itu, SABATAKU juga dijadikan kegiatan curah masalah dari siswa ke wali kelas. Ditambah kondisi yang sedang marak terjadi baik dilingkungan sekolah atau luar sekolah, yakni perundungan dan tindak kekerasan dikalangan remaja.

Dalam konteks pencegahan dan penanganan tindak perundungan dan tindak kekerasan. SAHABATKU menjadi garda terdepan dalam identifikasi masalah. Bersama wali kelas indentifikasi maslah itu bisa dilakukan sedini mungkin dan sedalam mungkin untuk dilakukan di kelas. Misalnya dalam memahamjan siswa terkait perundungan dan tindak kekersaan. Dengan SAHABATKU , materi ini bisa disampaikan secara masif di kelas. Dalam pembuatan komitmen bersama, kegiatan SAHABATKU menjadi ruang untuk melakukan penguatan komitmen anti perundungan dan kekeranan.

Foto 3. Kegiatan SABAHATKU di lakusanakan di lapangan integrasi kegiatan sosialisasi anti perundungan

Kegiatan SAHABATKU sangat fleksibel, bisa dilaksanakan di kelas atau di lar kelas dan terintegrasi dengan kegiatan lainnya.  Seperti kegiatan anti perundungan, diintegrasikan ke dalam kegaiatan SAHABATKu. Kegiatan dilakukan dilapangan sekolah dengan rangakian acara yang dipandu oleh tim TPPK SMAN 1 Geyer. Dalam kegiatan ini memuat sosialisasi anti perundungan, sarapan bersama dan live musik dari siswa siswi SMAN 1 Geyer.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *