IMC

Desain tanpa judul (18)

Medianya Mahasiswa ITB-MG

Haji Zoom
Oleh: Joko Intarto 
 
Kementerian Agama membuat inovasi berupa penerbitan sertifikat haji. Sertifikat itu akan diberikan kepada semua jamaah haji tahun 2023, baik yang berstatus menunaikan sendiri maupun badal haji.
Ibadah haji adalah salah satu rukun Islam. Ibadah ini wajib ditunaikan umat Islam yang mampu. Penerbitan sertifikat itu menjadi menarik, karena sudah lebih dari 1.400 tahun ibadah haji dilaksanakan, baru sekarang ada negara yang menerbitkan sertifikat haji. 
Pertanyaannya, seberapa pentingnya sertifikat itu?
 
Aspek Sejarah
 
Pada masa kolonial, umat Islam yang telah menunaikan ibadah haji diberi gelar ”haji” oleh pemerintah Hindia Belanda. Gelar diberikan tanpa sertifikat.
Pemberian gelar itu berlatar belakang politis: Untuk memudahkan penguasa dalam memantau aktivitas umat Islam yang kaya pada masa itu. Konon, gelar ”haji” hanya dikenal di bekas wilayah Hindia Belanda saja. 
 
Dari sejarah itu, gelar haji sering dicantumkan dalam identitas formal seseorang dengan inisial ”H” (haji) dan ”Hj” (hajjah) di depan nama. Padahal H dan Hj hanya sebutan, bukan gelar akademis. Meski demikian, tidak semua umat Islam yang telah menunaikan ibadah haji mau mencantumkan gelar H atau Hj di depan namanya.
 
Aspek Teknologi
 
Membaca penjelasan Kementerian Agama tentang teknis pendistribusian sertifikat, menurut saya tidak canggih, tidak praktis dan boros biaya. Bayangkan saja:
1. Sertifikat harus dicetak di masing-masing kantor kementerian agama di setiap kabupaten/kota. Berarti akan ada tugas tambahan bagi pegawai, perlu biaya tambahan untuk membeli kertas, tinta, printer.
2. Sertifikat diambil jamaah atau yang diberi kuasa jamaah di kantor wilayah secara gratis. Meski tidak perlu membayar, jamaah tetap harus keluar biaya ekstra untuk sertifikat itu. 
3. Jamaah juga harus mempersiapkan waktu khusus agar kedatangannya tidak sia-sia. Bisa saja, mereka datang tapi sertifikat belum dicetak karena kehabisan blanko atau printernya kehabisan tinta. Malah menambah kerepotan bagi jamaah yang berdomisili jauh dari kantor tersebut.
 
Padahal, Kementerian Agama sudah lama menggunakan sistem informasi untuk mengelola perjalanan ibadah haji. Sejak pendaftaran, semua telah didigitalisasi. Kalau toh sertifikat haji itu perlu diterbitkan, mengapa tidak menggunakan sertifikat elektronik saja? 
 
Developer Siskohaj pasti bisa membangun aplikasi e-certificate dengan database jamaah haji yang berangkat setiap tahun dan mengirimkan ke email atau nomor telepon setiap jamaah. Ini canggih, praktis dan murah. 
 
Anggap saja, sertifikat haji itu sama dengan sertifikat mengikuti seminar online melalui aplikasi Zoom. Selesai acara, peserta menerima sertifikat melalui email masing-masing. Kalau peserta mau mencetak, silakan nge-print sendiri-sendiri. 
 
Lain ceritanya kalau sertifikat haji itu bisa menjadi agunan kredit atau syarat kenaikan pangkat dan syarat menjadi calon peserta pemilu.(jto)
[14.27, 17/7/2023] JTO: EPIC HENDRI
Oleh: Joko Intarto
 
Sudah sering saya mengedit naskah biografi. Tapi yang satu ini terasa berbeda. Saya sampai susah berhenti mengikuti kisah perjalanannya. Mengedit sekali rasanya tidak cukup. Saya terpaksa mengulangi lagi hingga dua kali.
 
Biografi ini bercerita tentang perjalanan hidup Hendri Yono yang lahir di Desa Lhok Pawoh, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh, 20 Desember 1975. Ia anak keenam dari tujuh bersaudara. Kedua orang tuanya, HM Yunus dan Hj Muchaisi, merupakan warga desa biasa yang menggantungkan hidup dari hasil panen buah pala.
Kisah Hendri, panggilannya sehari-hari, jadi menarik karena prosesnya tidak biasa. Hendri menjalani takdirnya dengan cara ‘’zigzag’’. Berawal dari putus asa karena gagal dalam seleksi ASN, ia menemukan jalan sukses menjadi pengusaha.
 
Tahun 1998, Indonesia sedang dilanda krisis moneter. Perekonomian masyarakat terpuruk. Banyak perusahaan ambruk karena bunga kredit bank sangat tinggi. Daya beli masyarakat merosot. Nilai Rupiah jatuh.
 
Dalam situasi susah duit itulah, harga biji pala meroket hingga lima kali lipatnya! Dari Rp4 ribu per bambu menjadi Rp20 ribu per bambu!
 
Hasil panen 1.000 bambu menghasilkan uang Rp 20 juta. Dari situlah Hendri membuka usaha jasa penjahitan baju dengan nama Cahaya Tailor di Tapak Tuan. Sedangkan Musdaijar, kakaknya, membuka toko kelontong dengan nama Pante Cahaya. Dua usaha berbeda itu menyewa dua ruko gandeng.
 
Hendri benar-benar ‘’bonek’’ alias ‘bondo nekat’. Menjahit saja dia tidak bisa, tetapi malah membuka usaha tailor. 
 
Tapi dalam kenyataan, banyak orang yang sukses karena bonek. Bermula dari dua penjahit, Cahaya Tailor akhirnya berkembang pesat. 
 
Perkenalan Hendri dengan dunia politik berawal dari pembukaan kantor PKPI persis di sebelah gerai Cahaya Tailor. Hendri kemudian ditawari menjadi calon anggota legislative karena PKPI masih kekurangan satu orang untuk memenuhi kuota yang disyaratkan.
 
Cerita kian seru karena Nafrizal, penulis biografi itu, sangat lihai merangkai konflik batin dan konflik sosial yang dialami Hendri. Mantan wartawan itu begitu apik mengungkapkan bagaimana Hendri yang galau antara menjadi caleg yang butuh dana kampanye besar atau tetap menjadi pengusaha dan bisa membeli mobil idaman.
 
Secara keseluruhan, biografi Hendri adalah perjalanan transformasi seseorang. Dari orang biasa menjadi politisi terkemuka di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. 
 
Hendri menambah satu lagi dalam daftar figure yang mewakili cerita from zero to hero. Biografinya sangat epic. Mengalir. Bergelora. 
 
Kalau Anda hari ini merasa gagal dan bingung untuk bangkit lagi, baca biografi yang berjudul ‘’Cahaya Negeri Pala’’ itu. Tapi Anda harus sabar. Buku itu baru akan terbit kurang lebih sebulan lagi.
 
———-
Joko Intarto, editor buku ‘’Cahaya Negeri Pala’’, cetakan perdana 2023.