Oleh : Drs. Aris Supriyadik, M.Pd
1.Dasar
Artinya : Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
Mi’raj Nabi Muhammad saw. dari Masjid al-Aqsha ke Sidrat al[1]Muntaha pada 27 Rajab dalam waktu yang amat cepat merupakan peristiwa spektakuler yang mengundang reaksi keras dari kalangan kafir Quraisy saat itu, bahkan hingga sekarang. Ada yang mengatakan peristiwa itu terjadi dalam mimpi, bukan dalam alam nyata, atau terjadi pada diri Muhammad hanya dengan ruhnya bukan jasadnya.
Kaum emipris dan rasionalis orang barat, sering mempersoalkan dengan sejumlah sanggahan: Bagaimana mungkin kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya, kecepatan yang merupakan batas kecepatan tertinggi dalam empat dimensi ini dapat terjadi? Bagaimana mungkin lingkungan material yang dilalui Nabi Muhammad tidak mengakibatkan gesekan-gesekan panas yang membakar tubuhnya? Bagaimana mungkin ia dapat melepaskan 2 diri dari daya tarik bumi? Menurut kaum empiris dan rasionalis tidak mungkin terjadi.
Hal ini bisa dimaklumi kaum empiris dan rasionalis mempertanyakan peristiwa yang spektakuler itu. Sebab mereka memandang segala sesuatunya berdasarkan realita empiris dan yang rasional saja. Jadi konsep keilmuan quraisy kafir itu bahwa sesuatu disebut ilmiah, jika lingkup penelaahannya berada pada daerah jangkuan akal pikiran manusia. Padahal Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa yang sublime ( indah dan mulia) dan Allahlah yang memperjalankan.
Dalam prespektif keilmuan Islam, maka persoalannya menjadi lain, pengakuan adanya kebenaran yang datang dari Tuhan. Pengakuan terhadap hal-hal yang bersifat metafisik (misalnya adanya Tuhan, malaikat, hari kebangkitan, surga, neraka dan seterusnya) itu merupakan kebenaran agama yang tak perlu adanya bukti empiris, melainkan persolan-persoalan metafisik tersebut benar adanya (realistis). Sesuatu yang tidak tau atau belum terjangkau oleh akal pikiran manusia tidaklah selalu menjadi dalih akan ketidakbenaran sesuatu itu sendiri. Di Al[1]Qur’an menyebutkan : Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit sekali” (QS.17 : 85).
Apa yang ditegaskan Al-Qur’an tentang keterbatasan pengetahuan manusia tersebut juga diakui oleh para ilmuwan abad 20. Misal Teori Black Holes menyatakan bahwa pengetahuan manusia tentang alam hanyalah mencapai 3 persen saja, sedangkan 97 persennya di luar kemampuan manusia. Itulah sebabnya seorang tokoh eksistensialisme menyatakan, “Seseorang harus percaya bukan karena ia tahu, melainkan karena ia tidak tahu“. 3 2.
Sains dan Teknologi Dari perspektif Sains dan teknologi peristiwa Isra Miraj dapat lebih mudah dipahami di zaman sekarang. Dalam perkembangan dan kemajuan teknologi ini, peristiwa Isra Miraj hampir bisa dibuktikan secara ilmiah dengan teori relativitas. Sehingga peristiwa Isra Miraj tidak lagi menjadi hal yang aneh dan mudah untuk bisa dicerna akal.
Contoh, dahulu wujud komputer sangat besar, tapi dengan teknologi yang diciptakan manusia, komputer bisa dibuat lebih kecil. Kemudian dibuat lebih kecil lagi menjadi laptop, hingga sekarang menjadi sebuah gawai, yang memiliki kemampuan seperti komputer. Sekarang gawai bisa mengirim file/dokumen dengan cepat meski jaraknya sangat jauh.
Tetapi teknologi orang bertakwa, yang mempunyai ilmu dari Kitab. Ingat kisah Nabi Sulaiman as. Ifrit mengatakan bisa memindahkan singgasana ratu Balqis sebelum Nabi berdiri dari singgana. Tetapi ada yang lebih menyanggupi sebelum Nabi berkedip. Kemudian singgasana Ratu Balqis pindah ke hadapan Nabi Sulaiman. Kisah Nabi Sulaiman yang memindahkan secara singgasana secara hardcopy dalam waktu singkat,”
Teknologi teleportasi itu diwujudkan lagi oleh Allah, kepada manusia yang bertakwa. Rasulullah lebih dahsyat teleportasinya menembus tujuh lapis langit hingga ke Sidratul Muntaha, kemudian Rasulullah kembali lagi ke Bumi hanya dalam waktu kurang dari semalam. “Jadi secara ilmiah (peristiwa Isra Miraj) bisa dicerna (akal) sekarang, kalau zaman dulu mungkin susah dicerna. 3.
Perintah Shalat Lima Waktu Sebetulnya peristiwa Isra’ Mi’raj ini memiliki arti penting bagi pembinaan keperibadian manusia, karena dalam peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut Nabi menerima perintah shalat lima waktu dalam 4 sehari. Shalat inilah yang merupakan inti dari peristiwa besar tersebut, karena shalat merupakan tiang agama dan dasar dari pembangunan keperibadian manusia. Dalam pengertian lebih luas, shalat memiliki arti zikir dan senantiasa mengingat Allah dalam segala tindakannya, sehingga dengan menegakkan shalat ini diharapkan manusia tidak pernah memiliki kesempatan untuk melakukan kejahatan dan segala macam tindakan keji lainnya. Sebagaimana penegasan Allah SWT melalui firman-Nya, “Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar” (QS. Al-‘Ankabut:45).
Artinya : Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. Inti dari peristiwa inilah yang hingga sekarang menjadi tradisi wajib yang senantisa dikerjaka oleh setiap muslim. Pertanyaannya kemudian, shalat yang bagaimanakah yang mampu mencegah perilaku keji dan munkar itu?
Nabi sudah memperingatkan kepada umatnya, bahwa suatu saat nanti akan datang kepada umat manusia, di mana banyak orang yang melaksanakan shalat tetapi (hakikatnya) mereka tidak shalat. Inilah fenomena zaman yang sering dipertanyakan orang mengenai relevansi shalat dengan fenomena maraknya kejahatan dan tindak kezaliman lainnya. 5 Ada tiga kategori manusia yang digolongkan sebagai “manusia yang melalaikan shalat” itu:
Pertama, lalai waktu. Mereka ini suka mengolor-olor waktu shalat, sudah waktunya shalat, tetapi masih ditunda-tunda untuk melaksakannya, alias mereka tidak disiplin dan tidak tepat waktu. Itulah sebabnya ketika Nabi ditanya salah seorang sahabatnya mengenai amal yang afdhal, beliau menjawab “shalat yang tepat waktu”.
Kedua, lalai tidak mengingat Allah dalam shalatnya, artinya selama dalam shalat, mereka lisannya mengucapkan bacaan[1]bacaan shalat, tetapi hatinya keluar dari kontesks shalat, pikirannya tertuju pada urusan duniawi, bahkan mereka tidak menghayati gerakan dalam shalat (tidak thuma’ninah).
Ketiga, shalat, mungkin thuma’ninah dan tepat waktu, tetapi di luar tindakan shalat formal itu mereka tetap melakukan kejahatan.
Jadi mereka memisahkan antara shalat sebagai ibadah, dengan urusan kehidupan dunia sehari-hari, inilah sesungguhnya yang disebut sekuler /sahun (lalai) dalam bahasa Qur’an-nya. Tetapi jika kita mampu mengeliminir/memperkecil sahun (mendesekularisasi) maka berarti kita termasuk kategori manusia yang disebut oleh Allah SWT sebagai aflah al-mu’minun, yaitu orang-orang mukmin yang paling beruntung, orang-orang yang khusyu’ dalam melaksanakn shalatnya (QS. Al-Mu’minun:1- 2). Wassalam.W.W