Kado Terindah di Hari Arafah
Rika Ummu Arfa
Saya adalah seorang ibu rumah tangga dari Bandung yang saat ini diamanahi 5 orang putra putri.
Lima kali hamil dan melahirkan, masing-masing punya cerita tersendiri; ada yang mudah ada yang sulit, ada yang cepat saat persalinan ada juga yang lama, ada yang lancar dan ada yang berliku penuh ujian. Dari semua proses, saya bisa merasakan bagaimana kaum ibu saat hamil dan melahirkan, berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan putra-putrinya. Maasya Allah, wajarlah jika semua anak harus menghormati ibunya.
Kembali ke proses hamil dan melahirkan, saya masih belum lupa cerita kehamilan anak kelima kami. Waktu hamil dan lahiran, banyak cerita luar biasa untuk pelajaran hidup yang makin menguatkan keimanan kepada Allah SWT.
Cerita diawali di bulan Desember 2018, saat badan terasa tidak enak, cepat pusing, mual. Suami sedang di luar kota menemani orangtua yang sakit, sementara saya menemani anak-anak yang bersekolah di Bandung. Saat itu belum datang bulan, jadi ada prasangka kemungkinan hamil anak kelima.
Untuk memastikannya kubeli alat tes, dan hasilnya positif, alhamdulillah Allah memberikan amanah baru, walau dengan banyak tanya siapkah dalam kondisi suami sedang peralihan tidak ada pekerjaan tetap, setelah memilih resign dari tempat bekerja.
Entah kenapa kehamilan yang satu ini begitu banyak ujiannya. Dari awal periksa darah rendah, HB rendah. Ini terjadi sampai bulan kelima dan berat badan malah turun. Perkembangan sampai bulan ke sembilan juga tidak ada perubahan.
Serangkaian tes dilakukan. Tes HIV, gigi, dan lain-lain. Hasilnya darah tinggi dan kaki bengkak, hasil tes protein urien positif 1 yang artinya ada gejala preeklamsi. Sampai rumah langsung browsing arti preeklamsi. Jantung deg-degan, karena efek preeklamsi sangat berat, bisa membahayakan ibu dan janin.
Dengan kondisi “agak serius” tersebut, diputuskan untuk pindah periksa ke bidan lain yang lebih berpengalaman dan memiliki fasilitas lebih lengkap di kliniknya. Alhamdulillah di klinik ini, bidan dan asistennya sangat ramah. Darah masih tinggi. HB masih rendah. Kaki masih bengkak. Posisi bayi juga melintang, tapi kadang berubah jadi sungsang. Atas saran bidan, kami harus konsul ke dokter kandungan sekaligus USG.
Akhirnya ketemu dengan dokter. Setelah dokter membaca pengantar dan melakukan USG, dokter bilang bahwa kehamilannya harus segera diakhiri. Sudah ada pengapuran pada plasenta. Bukan itu saja, posisi bayi juga melintang. Solusinya adalah segera operasi. Saat itu masih coba bilang ingin lahiran normal, namun dokter bilang dengan tegas harus segera operasi karena sangat beresiko. Resikonya terlalu berat. Preeklamsia dapat menyebabkan kerusakan ginjal, hati, paru-paru, jantung, mata, dan dapat menyebabkan stroke atau cedera otak lainnya, bahkan bisa mengancam jiwa ibu dan janin.
Setelah ketemu suami, kusampaikan solusi dokter.
“Ya kalau harus caesar umi tenang aja insyaa allah uang bisa dicari”, kata suami.
Masya allah, suamiku masih bisa tenang padahal kutahu tak ada uang untuk biaya operasi. Ini pengalaman pertama karena keempat lainnya lahir normal. “Kita minta yang terbaik pada Allah”, lanjut suami.
Positif, lahiran ini harus caesar. Tidak bisa ditawar. Kondisi kandungan sangat tidak baik-baik saja. Taruhannya terlalu berat, bahkan mengancam nyawa. Siapa yang gak takut? RS Hasan Sadikin akhirnya menjadi pilihan. Kami pun bersiap. Semua perlengkapan lahiran kami siapkan, kecuali biaya. Benar-benar kosong, tak ada. Tapi bayi ini harus diselamatkan. Yang penting berangkat dulu. Biaya pikir belakangan, begitu kata suami.
Sebelum berangkat ke Rumah Sakit, kami mampir dulu ke klinik. Kami diminta untuk pemeriksaan terakhir dari Klinik. Dengan diantar suami, kami berangkat ke klinik untuk serangkaian tes.
Allah SWT tunjukkan kebesaranNya. Hasil pemeriksaan berubah 180 derajat dari pemeriksaan-pemeriksaan sebelumnya; tensi darah Normal, HB bagus, posisi bayi normal dan masuk ke jalan lahir. Tinggal satu hasil yang ditunggu cek protein urien. Sambil nunggu hasil, suami pulang untuk menyiapkan peralatan saya dan bayi ke RS. Selama fase ini, saya dan suami melakukan semua cara untuk keselamatan janin ini, selain doa sendiri juga mohon doa dari teman dan keluarga. Kebetulan ada saudara yang sedang melaksanakan Ibadah Haji, tak lupa kami minta didoakan. Selesai sholat asar, bidan mengabarkan bahwa protein urien negatif. Alhamdulillah, air mata mengalir saat bidan memeluk dan berkata, “Allah akan memberikan yang terbaik bagi para penolong agamaNya”. Akhirnya kami tidak jadi berangkat ke RS, bidan bilang lahiran normal saja. Alhamdulillah. Sesaat setelah hasil pemeriksaan keluar, suami tiba di klinik dengan semua perlengkapan ke rumah sakit. Awalnya kan dari klinik langsung berangkat ke rumah sakit. Eh tepat sebelum berangkat, Allah memberi keputusan lain. Semua kondisi berbulan-bulan yang dirasakan selama kehamilan, berubah total tepat menjelang kelahiran …
Akhirnya kami tidak jadi berangkat ke rumah sakit. Tidak jadi caesar. Jadinya lahiran normal. Lahiran di klinik dekat rumah.
Tapi ternyata ujian masih berlanjut, kontrol hari berikutnya, posisi bayi melintang lagi. “Ya Allah de aktif banget, sini ke bawah kasian umi, biar lahir normal”, kata bidan.
Hari berikutnya, Jum’at pagi, posisi bayi sungsang setelah sebelumnya melintang. Dalam situasi begini saya diberitahu kalau bapak masuk rumah sakit, kabarnya sakit karena mikirin saya. Semakin merasa bersalah. Dalam kondisi sedih gini, ada flek keluar. Akhirnya ngajak suami berangkat ke klinik. Sambil berangkat ke klinik, mampir nengok bapak dulu, sekalian minta doanya.
Sampai klinik diperiksa alhamdulillah posisi bayi bagus, darah normal, HB juga bagus. Malam itu suami dan anak-anak ikut tidur di klinik. Alhamdulillah di klinik tidak ada pasien lain, jadi kaya rumah sendiri.
Mulailah dilakukan pijatan rangsangan, ada mules tapi belum rutin. Klinik yang bersih dan suara lantunan al-Qur’an membuat lebih tenang. Dini hari masuk ruang bersalin walaupun mules belum teratur, kaki bengkak jadi sering buang air kecil. Denyut jantung bayi terus dipantau, karena bayi dengan riwayat preeklamsi khawatir kehabisan oksigen. Sampai subuh belum juga lahir. Akhirnya, saya minta izin agar suami ikut nemenin. Tepat jam 6 bayi akhirnya lahir. Tapi anehnya suami menangis, padahal sebelumnya tidak pernah nangis. Ternyata bayiku lahir tanpa tangis, putih seperti tak bernyawa, leher terlilit tali pusar,…,
Bidan bertindak sigap, ada yang melepas lilitan dan ada yang memukul-mukul telapak kaki bayi. Bunyi pukulan yang keras membuat hatiku sakit. Tak lama kemudian terdengar tangisan lemah bayi…, alhamdulillah ya Rabb bayiku selamat.
Bayiku lahir tanggal 9 Dzulhijah, bertepatan 10 Agustus 2019. Ternyata Allah mempersiapkan kado terindah untuk keluarga kami di hari Arofah. Muhammad Ziyad Arfa, begitulah kunamai bayiku.
Dan biaya? Sampai bayi lahir suamiku belum pegang uang. Tepat jam 7, kurang lebih 1 jam setelah kelahiran, suami ditelpon seseorang. Ternyata ada yang minta ketemu untuk konsultasi penyusunan karya tulis jam 10 an. Akhirnya suami pamit sebentar untuk menemui klien. Tepat jam 12.00 suami datang. Saat suami buka pintu masuk klinik, bertepatan dengan suara bidan memanggil untuk menyelesaikan administrasi. Saat melihat tagihan biaya, suami langsung ngeluarin uang dari saku dan bayar. Maasya Allah,… biaya persalinan sama persis dengan uang yang barusan diterima suami dari klien. Rp. 2.000.000.-. Tepat dua juta rupiah.
Dari proses hamil dan kelahiran ini, banyak pembelajaran bisa kami ambil. Senantiasa bersabar dan berbaik sangka (husnudzan) pada Allah SWT. Juga tidak menyandarkan diri pada manusia. Menyandarkan diri pada manusia hanya akan berakhir kecewa. Allah lah sandaran terbaik. Suami bercerita awalnya tenang karena temannya banyak yang kaya dan berharap bisa dapat pinjaman, ternyata sampai malam sebelum kelahiran tidak ada satupun yang bisa bantu. Segera suami sadar dan mohon ampun kepada Allah karena khilaf telah menyandarkan urusan bukan kepadaNya. Segera bertaubat dan banyak istighfar. Benarlah, akhirnya pertolongan Allah datang, ibu dan anak selamat, Allah bukakan pintu rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Sebuah pembelajaran yang luar biasa. Berbaik sangka bahwa Allah pasti menolong, maka Allah akan menolong. Berusaha sambil terus bertawakkal kepada-Nya, maka Allah akan mencukupi keperluannya.
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. Ath Thalaq : 2-3).
Maha benar Allah, dengan segala firman-Nya.
Biodata Penulis
Terlahir di Kota Kembang Bandung, 43 tahun yang lalu. Akrab dipanggil Ummi Rika. Ibu dari 3 putra dan 2 putri. Beraktivitas sebagai ibu rumah tangga, pernah menjadi guru PAUD. Ikut berpatisipasi ingin meninggalkan jejak untuk anak-anak dan suami tercinta. Moto: ”Hidup untuk meraih ridho Allah SWT juga bermanfaat untuk sesama”.