IMC

Desain tanpa judul (18)

Medianya Mahasiswa ITB-MG

Oleh : Hadi Tanuji

 Keberhasilan suatu negara bisa dilihat dari kualitas bangsanya. Pemuda sebagai ujung tombak generasi masa kini, adalah agen perubahan yang memiliki peran yang besar bagi perubahan-perubahan sosial di lingkungannya. Sebagai agen perubahan, dengan sikap kritis dan semangatnya, mereka memiliki kekuatan untuk mempengaruhi dan menyadarkan masyarakat untuk melakukan suatu gerakan perubahan sosial. Oleh karena itu generasi masa kini adalah generasi harapan masa depan yang diharapkan lebih baik dari generasi sebelumnya. Maka generasi masa kini haruslah menjadi generasi tangguh.

Berkenaan dengan generasi tangguh ini, salah satu tokoh Muhammadiyah Dahlan Rais menjelaskan pentingnya menjadi generasi tangguh dengan mengutip surat an-Nisa ayat 9, “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” Dengan ayat ini Dahlan Rais menjelaskan bahwa Allah mengingatkan setiap muslim jangan sampai meninggalkan generasi penerus yang lemah. “Kalau-kalau itu dibalik, maka perintahnya siapkan generasi penerus yang tangguh,” kata beliau dikutip dari https://muhammadiyah.or.id/generasi-tangguh-seperti-apa.

Lebih lanjut Dahlan Rais menjelaskan bahwa tangguh digambarkan dengan sikap pantang menyerah. Dirinya akan menjadi pribadi yang tidak pernah merasa lemah atas sesuatu yang terjadi pada dirinya dan selalu berpikir positif. Tangguh juga berarti kemampuan atau sikap untuk berbuat yang baik terhadap apa yang menjadi kewajibannya. Dahlan Rais menegaskan bahwa jika seorang muslim telah memiliki niat yang kuat maka ia akan meraih segala sesuatu yang diupayakan. Mereka yang tangguh bila jatuh akan bangkit lagi, dan seterusnya hingga meraih citanya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tangguh memiliki lebih dari satu arti. Pertama, tangguh memiliki arti menunda (waktu); minta janji (tempo) seperti pada kalimat “saya minta tangguh waktu membayar uang kuliah”. Namun bukan tangguh ini yang diharapkan dimiliki oleh generasi saat ini.

Definisi lain dari tangguh menurut KBBI adalah sukar dikalahkan; kuat; andal: kuat sekali (tentang pendirian dan sebagainya); tabah dan tahan (menderita dan sebagainya); kukuh. Definisi tangguh inilah yang menjadi topik tulisan kali ini, sekaligus yang diharapkan dimiliki generasi penerus, yakni generasi yang sukar dikalahkan, kuat baik fisik maupun pemikiran, memiliki keandalan dalam ilmu dan teknologi, memiliki pendirian yang teguh sebagai hasil dari keimanan yang menancap dalam dada, tabah dan sabar menghadapi ujian saat berjuang menjalani kehidupan.  

Contoh dan teladan bagi generasi muda sudah jelas yakni Rasul Allah Muhammad saw. dan para sahabat yang berada di bawah binaannya. Mengetahui bagaimana perjuangan Rasul dalam menegakkan Islam dan Umatnya, Rasul mencontohkan banyak hal salah satunya adalah menjadi generasi yang tangguh.

Generasi Tangguh Lahir dari Pendidik Tangguh

Berkaitan dengan generasi tangguh, Islam telah melahirkan banyak pemuda tangguh yang sepak terjangnya bisa menjadi pelajaran generasi ummat Islam saat ini. Keberadaan mereka memberikan gambaran bagaimana seharusnya generasi tangguh itu dibentuk. Beberapa pemuda tangguh yang tercatat dalam sejarah Islam di antaranya adalah Abdullah bin Zubair, Hasan dan Husain, Usamah bin Zaid bin Haritsah, dan Habib bin Zaid. Uraian di bawah ini adalah profil dari beberapa contoh generasi tangguh yang berhasil penulis rangkum.  

Abdullah bin Zubair

Abdullah bin Zubair lahir dari pasangan mujahid dan mujahidah. Ia berkembang dalam binaan kepemimpinan Islam menjadi seorang pemuda perwira yang perkasa, pemberani dan tangguh. Keberanian dan ketangguhannya ia buktikan ketika bersama kaum muslimin lainnya menggempur Afrika, membebaskan mereka dari kesesatan. Saat itu usianya baru menginjak 17 tahun, usia dimana generasi muda saat ini masih bermain-main dan bergantung pada orang tuanya. Namun begitulah kehebatan sistem pendidikan Islam yang bisa mencetak pemuda belia menjadi tokoh pejuang pemberani.

Dalam peperangan tersebut, jumlah personil diantara dua pasukan jauh tidak seimbang. Jumlah pasukan Muslimin hanya 20.000 orang, sedangkan tentara musuh berjumlah 120.000 orang. Keadaan ini cukup membuat kaum Muslimin kerepotan melawan gelombang musuh yang demikian banyak.

Melihat kondisi yang kurang menguntungkan tersebut, Abdullah bin Zubair berpikir mencari rahasia kekuatan lawan dan menemukan jawaban, bahwa inti kekuatan musuh adalah Raja Barbar yang menjadi panglima perang mereka. Dengan penuh keberanian, Abdullah menembus pasukan musuh yang berlapis menuju ke arah panglima tersebut dan berhasil membunuh panglima kaum musyrik itu. Dan ternyata, dugaan Abdullah tidak meleset, segera setelah itu semangat tempur pasukan musuh redup dan tak lama kemudian mereka bertekuk lutut di hadapan kaum muslimin.

Di luar keberaniannya dalam berperang, Abdullah juga seorang abid ahli ibadah yang khusyuk dan tawadhu. Digambarkan bahwa apabila Abdullah bin Zubair sedang shalat, tubuhnya seperti batang pohon yang tidak bergeming karena khusyuknya menghadap Allah ((sumber : 101 Sahabat Nabi karya Hepi Andi Bastoni)).

Pemuda tangguh ini lahir dari rahim Asma’ binti Abu Bakar, seorang ibu tangguh yang dikenal sebagai musilimah pejuang yang cerdas dan sangat dermawan. Di bawah asuhannya inilah abdullah berkembang menjadi pemuda tangguh dan pemberani.

Hasan dan Husain

Hasan dan Husain adalah cucu Nabi Muhammad SAW yang menjadi salah satu diantara sosok yang dijamin masuk surga oleh Allah SWT. Keduanya merupakan anak dari Fatimah Az Zahra dan Ali bin Abi Thalib, yang memiliki hati mulia dan perilaku yang sangat baik.

Hasan yang merupakan anak pertama dari Ali dan Fatimah dikenal sebagai sosok yang tampan dan dermawan. Sejak kecil, ia dikatakan sangat mirip dengan Nabi Muhammad SAW. Suatu ketika, Rasulullah bahkan bersabda bahwa ia menyerupai rupa serta akhlak beliau. 

Seperti kepada anak kandungnya, Rasulullah memiliki rasa sayang dan cinta yang teramat besar terhadap Hasan  dan Husain. Atas kelahiran mereka, Nabi Muhammad SAW sangat gembira dan tak henti-hetinya mengucap syukur kepada Allah SWT atas karunia yang begitu besar ini. 

Meski demikian, Nabi Muhammad SAW tak dapat memungkiri rasa sedih saat kehadiran Hasan  dan Husain. Hal itu karena beliau mengetahui bahwa hidup salah satu di antara mereka akan berakhir di medan perang. 

Hasan yang merupakan anak pertama dari Ali dan Fatimah dikenal sebagai sosok yang tampan dan dermawan. Sejak kecil, ia dikatakan sangat mirip dengan Nabi Muhammad SAW. Suatu ketika, Rasulullah bahkan bersabda bahwa ia menyerupai rupa serta akhlak beliau. Selama hidupnya, Hasan  dikenal sangat cerdas, mampu menghapal hadits dan Alquran dengan cepat. Ia juga memiliki sifat yang lemah lembut, serta menjadi sosok baru bagi umat Muslim di zamannya. Ia mendapat julukan ‘karimu ahlil bait’ atau keluarga Rasulullah yang paling dermawan.

Sementara itu Husain, adik dari Hasan, putra kedua Ali dan Fatimah dikenal sebagai cucu Rasulullah yang gagah berani. Ia diketahui lahir 1 tahun 10 bulan setelah kelahiran Hasan, tepatnya pada 5 Sya’ban 5 Hijriyah.

Keduanya adalah pemimpin para pemuda di surga (HR. Tirmidzi). Mereka berdua adalah pemuda yang sangat dermawan dan memiliki akhlak yang mulia. Tak heran karena mereka adalah buah pernikahan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az Zahra, tumbuh besar dalam asuhan dan keteladanan kedua orang tua dan bimbingan Nabi Muhammad saw.

Usamah bin Zaid bin Haritsah

Sejarah Islam mencatat sejumlah panglima perang terhebat sepanjang masa. Salah satunya Usamah bin Zaid. Usamah merupakan panglima Islam termuda sekaligus panglima terakhir yang ditunjuk langsung oleh Rasulullah. Ia mulai memimpin perang pada usia 18 tahun, usia yang masih belia untuk generasi saat ini. Namun karena dididik dengan tuntunan Islam, Usamah muda menjadi sosok dengan kepribadian Islam yang matang, dengan kekuatan nafsiah islamnya ditunjang pula oleh pemikiran islam yang mumpuni. Siapa sosok ibu tangguh yang mendampingi pertumbuhannya? Dialah Ummu Aiman radhiallahu ‘anhu, seorang wanita yang sempat menyusui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia adalah seorang mujahidah yang turut serta di medan pertempuran bersama Rasulullah. Ia hadir di Perang Uhud dan juga di Khaibar. Tugasnya adalah memberi minum pasukan. Dan mengobati mereka yang terluka.

Ummu Aiman juga meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam al-Ishabah, Ibnu Hajar rahimahullah menukilkan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Dia ini (Ummu Aiman) adalah bagian keluargaku yang tersisa.”

Ayah Usamah, Zaid bin Haritsah, yang merupakan suami Ummu Aiman syahid di Perang Mu’tah.

Di bawah bimbingan Ummu Aiman-lah Usamah tumbuh besar. Ia menjadi seorang pejuang dan pahlawan. Ia diajarkan akan nilai-nilai jihad, perjuangan, dan kepemimpinan. Dari hasil didikan itu, di usia 18 tahun, Usamah telah memimpin pasukan besar yang juga dianggotai tokoh-tokoh sahabat Muhajirin dan Anshar.

Habib bin Zaid

Habib bin Zaid dibesarkan dalam sebuah rumah yang penuh keharuman iman di setiap sudutnya, di lingkungan keluarga yang melambangkan pengorbanan.

Ayah Habib, Zaid bin Ashim, adalah salah seorang dari rombongan Yatsrib yang pertama-tama masuk Islam. Zaid termasuk Kelompok 70 orang yang melakukan baiat dengan Rasulullah di Aqabah.

Ibu Habib, Ummu Amarah Nasibah Al-Maziniyah (Nasibah binti Ka’ab), merupakan wanita pertama yang memanggul senjata untuk mempertahankan agama Allah dan membela Nabi Muhammad SAW.

Saudaranya, Abdullah bin Zaid, adalah pemuda yang mempertaruhkan lehernya sebagai tebusan dalam Perang Uhud, untuk melindungi Rasul yang mulia. Tak heran jika Rasulullah berdoa bagi keluarga tersebut, “Semoga Allah melimpahkan barakah dan rahmat-Nya bagi kalian sekeluarga.”

Cahaya iman telah menyinari hati Habib bin Zaid sejak dia masih muda belia, sehingga melekat kokoh di hatinya. Kisah ketangguhan Habib bin Zaid diuji saat beliau diutus oleh Rasulullah saw mengirimkan surat balasan ke Musailamah Al Kadzdzab, seorang nabi palsu.

Saat kejahatan Musailamah mulai meluas, Rasulullah saw mengirim surat kepada Musailamah, memperingatkan supaya dia menghentikan segala kegiatannya yang menyesatkan itu. Beliau menunjuk Habib bin Zaid, untuk mengantarkan surat tersebut kepada Musailamah. Ketika itu Habib masih muda belia.

Habib bin Zaid berangkat melaksanakan tugas yang dibebankan Rasulullah kepadanya dengan penuh semangat, tanpa merasa lelah dan membuang-buang waktu. Akhirnya sampailah dia ke perkampungan Najd tempat Musailamah berada dan memberikan surat Rasulullah itu langsung kepada Musailamah.

Ketika membaca surat tersebut, Musailamah murka lalu memerintahkan kepada pengawal supaya mengikat Habib bin Zaid.

Keesokan harinya, Musailamah muncul di majelisnya diiringi para pembesar dan pengikutnya. Dia menyatakan majelis terbuka untuk orang banyak. Ia kemudian memerintahkan agar Habib bin Zaid diseret ke hadapannya. Habib masuk ke dalam majelis dalam keadaan terbelenggu, dan berjalan tertatih-tatih karena beratnya belenggu yang dibawanya.

Habib bin Zaid berdiri di tengah-tengah orang banyak dengan kepala tegak, kokoh dan kuat.

Musailamah bertanya kepadanya, “Apakah kamu mengaku Muhammad itu Rasulullah?”

“Ya, benar! Aku mengakui Muhammad sesungguhnya Rasulullah!” jawab Habib tegas.

Musailamah terdiam karena marah. “Apakah kamu mengakui, aku sebagai Rasulullah?” tanya Musailamah lagi.

Habib bin Zaid menjawab dengan nada menghina dan menyakitkan hati. “Agaknya telingaku tuli. Aku tidak pernah mendengar yang begitu.”

Wajah Musailamah berubah. Bibirnya gemeretak karena marah. Lalu katanya kepada algojo, “Potong tubuhnya sepotong!”

Algojo menghampiri Habib bin Zaid, lalu dipotongnya bagian tubuh Habib, dan potongan itu menggelinding di tanah.

Musailamah bertanya kembali, “Apakah kamu mengakui Muhammad itu Rasulullah?”

Jawab Habib, “Ya, aku mengakui sesungguhnya Muhammad Rasulullah!”

“Apakah kamu mengakui aku Rasulullah?”

“Telah kukatakan kepadamu, telingaku tuli mendengar ucapanmu itu!”

Musailamah kembali menyuruh algojo memotong bagian lain tubuh Habib, dan potongannya jatuh di dekat potongan yang pertama. Orang banyak terbelalak melihat keteguhan hati Habib yang nekat menentang sang nabi palsu.

Musailamah terus bertanya, dan algojo terus pula memotong-motong tubuh Habib berkali-kali sesuai dengan perintah Musailamah. Walaupun begitu, bibir Habib tetap berujar, “Aku mengakui sesungguhnya Muhammad Rasulullah!”

Separuh tubuh Habib telah terpotong-potong dan potongannya berserakan di tanah. Separuhnya lagi bagaikan onggokan daging yang bicara. Akhirnya, jiwa Habib melayang menemui Tuhannya. Kedua bibirnya senantiasa mengucapkan bahwa ia hanya mengakuai Muhammad SAW sebagai Rasulullah.

Setelah berita kematian Habib bin Zaid disampaikan orang kepada ibunya, Nasibah bin Maziniyah, ia hanya berucap, “Seperti itu pulalah aku harus membuat perhitungan dengan Musailamah Al-Kadzdzab. Dan kepada Allah jua aku berserah diri. Anakku Habib bin Zaid telah bersumpah setia dengan Rasulullah SAW sejak kecil. Sumpah itu dipenuhinya ketika dia muda belia. Seandainya Allah memungkinkanku, akan kusuruh anak-anak perempuan Musailamah menampar pipi bapaknya.”

Beberapa lama kemudian, setelah kematian Habib bin Zaid, tibalah hari yang dinanti-nantikan Nasibah. Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq mengerahkan kaum Muslimin memerangi nabi-nabi palsu, termasuk Musailamah Al-Kadzdzab. Kaum Muslimin berangkat untuk memerangi Musailamah. Dalam pasukan itu terdapat Nasibah Al-Maziniyah dan putranya, Abdullah bin Zaid.

Ketika perang di Yamamah itu telah berkecamuk, Nasibah membelah barisan demi barisan musuh bagaikan seekor singa, sambil berteriak, “Di mana musuh Allah itu, tunjukkan kepadaku!”

Ketika Nasibah menemukan Musailamah, sang nabi palsu ternyata telah pulang ke akhirat, tewas tersungkur di medan pertempuran tubuh bermandi darahnya sendiri. Tidak lama kemudian, Nasibah pun gugur sebagai syahidah.

Begitulah, generasi tangguh lahir dari pendidik yang tangguh. Keteladanan menjadi salah satu faktor kunci. Belajar dari keseharian Rasulullah dan para sahabat dalam membentuk generasi tangguh, satu hal yang tak bisa dilupakan adalah menanamkan keimanan dalam dada setiap generasi. Jika keimanan telah menancap hingga menyentuh qalbu, maka terbentuknya generasi tangguh adalah keniscayaan.

Wallahu a’lam

Bandung, 17 Januari 2023