Oleh: Hadi Tanuji
Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (TQS. Al Baqarah: 183)
Bulan Ramadhan adalah momentum untuk memperkuat kekuatan spiritual pada diri kaum muslimin. Kekuatan spiritual ini adalah kekuatan yang lahir dari keimanan kepada Allah SWT. Kekuatan yang lahir dari keyakinan bahwa Allah SWT akan menolong hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal salih. Kekuatan inilah yang sejatinya ada pada diri setiap muslim ketika menjalankan perintah Allah, termasuk perintah untuk berpuasa di bulan Ramadhan.
Allah SWT telah berfirman dalam surat al-Baqarah: 183,
Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (TQS. Al Baqarah: 183)
Kenapa perintah berpuasa dalam ayat ini diawali dengan sapaan “Yaa Ayyuhalladziina Aamanuu”? Dr.Abdul Muhsin bin Abdil Aziz al-Askar dalam kitab “bada’i al-ma’aanii: ayaat al-shiyaam tadabbur wa tahliil” menyatakan bahwa salah satu faidah dari diawalinya perintah berpuasa dengan ungkapan “Yaa Ayyuhalladziina Aamanuu” adalah untuk menunjukkan bahwa puasa merupakan konsekusensi dari keimanan. Orang yang mengaku beriman tapi tidak berpuasa maka dipertanyakan keimanannya. Di sini Allah SWT menyaring mana yang benar-benar beriman dan mana yang imannya palsu.
Hakikat iman adalah keyakinan yang tertanam dalam hati dan dibenarkan (dibuktikan) dengan amal perbuatan. Al-Hasan pernah mengatakan: “Sungguh iman itu bukanlah kata-kata manis dan bukan angan-angan. Sungguh iman itu adalah keyakinan yang tertanam dalam hati dan dibuktikan dengan perbuatan (amal shalih)”.
Dalam Lisan al-Arab, Ibnu manzhur mengatakan bahwa imam al-Zajaj menjelaskan definisi Iman dengan Ungkapan: Iman adalah memperlihatkan ketundukan dan penerimaan pada Syariat Allah dan segala yang dibawa oleh Nabi SAW, disertai dengan meyakini dan membenarkannya dengan hati.
Artinya iman butuh pembuktian. Iman bukan hanya ucapan lisan yang manis tanpa adanya ujian pembuktian. Orang yang beriman dengan sebenar-benarnya iman akan membuktikan keimanannya dengan amal shalih yaitu ketundukan dan kepatuhan kepada Syariat Allah. Seperti orang yang berpuasa di bulan Ramadhan. Ia berpuasa karena beriman kepada Allah SWT bukan karena yang lain.
Karena itu, kita akan menjumpai betapa banyak ungkapan iman di dalam al-Qur’an yang selalu disertakan dengan ungkapan amal shalih. Terdapat banyak sekali ungkapan “amanuu wa’amilush shoolihaat” di dalam al-Qur’an. Hal ini menunjukan bahwa iman tidak bisa dipisahkan dari amal shalih. Pembuktian iman adalah dengan menjalankan amal shalih. Amal shalih adalah amal yang didasarkan pada perintah dan larangan Allah SWT. Amal shalih adalah amal yang dilakukan sesuai ajaran Allah yang dibawa oleh Rasul-Nya. Jika ada orang mengaku beriman tapi menolak perintah Allah SWT maka imannya bukanlah iman yang sebenarnya.
Orang yang beriman dengan sebenar-benarnya iman adalah orang mau menyelesaikan segala masalah dalam hidupnya dengan merujuk kepada hukum Allah dan Rasul-Nya. Orang yang beriman dengan sebenar-benarnya iman adalah orang yang ridha dihukumi dengan hukum Allah dalam hatinya tidak ada rasa berat sedikit-pun menerima ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Orang yang beriman dengan sebenar-benarnya iman adalah orang yang berserah diri secara total kepada Allah SWT, siap diatur oleh Allah dan Rasul-nya.
Allah berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 65 yang artinya:
Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.
Orang yang beriman dengan sebenar-benarnya iman adalah orang yang tidak memilih pilihan lain ketika sudah ada ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Ketika bermu’amalah ia tidak akan mengambil sistem yang lain karena Islam memilki seperangkat aturan tentang muamalah antar manusia. Ketika berpolitik ia tidak akan memilih politik kapitalis sekular, karena Islam memiliki hukum-hukum yang berkaitan dengan politik. Dst..
Allah SWT berfirman dalam QS.Surat al-Ahzab ayat: 36 yang artinya:
Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.
Kedatangan bulan ramadhan ini bisa menjadi momentum untuk makin meningkatkan kekuatan spiritual kita, serta menempa keimanan kita dengan ketundukan pada syariat Allah yang sumbernya diturunkan di bulan yang mulia ini, yaitu al-Qur’anul Karim. Wallaahu a’lam