Beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan seorang teman. Senang ngobrol dengannya. Dia masih muda, aktif, bersemangat, juga pintar. Biasalah, ngobrol sana-sini. Salah satunya ngobrolin masalah peluang usaha. Dari obrolan ringan itu muncul ide-ide untuk bikin usaha. Tidak muluk-muluk, hanya sebuah rencana sederhana bermodal ilmu dan skill saja. Sampai akhirnya teman ini melontarkan sebuah pertanyaan sederhana “kalau planning yang kita lakukan tidak ada hasil gimana pak?”
Sampai di sini saya tidak merespon pertanyaannya. Sebenarnya saya mau menjawab “ya nggak apa-apa”. Tapi tidak saya lakukan.
Saya jawab kira-kira begini, “wah ini butuh diskusi lebih lanjut … “
Sebuah pertanyaan sederhana yang sebenarnya bisa dijawab dengan sederhana. Tapi saya tidak mau menjawabnya dengan sederhana, kenapa? Karena meski sepintas tampak sederhana, saya melihat pertanyaan ini sebenarnya sangat mendalam dan terkait tidak hanya dengan aspek teknis tapi juga dengan pemahaman tentang kehidupan, tentang aqidah.
Saya tertarik untuk membahasnya dengan lebih mendalam. Untuk menghormati penanya juga tentunya. Kalau yang bertanya anak kecil, saya akan jawab dengan sederhana sesuai dengan kapasitas berfikirnya.
Sudah merencanakan tapi tidak ada hasil alias gagal. Ini banyak terjadi, dimana-mana. Dari dulu hingga sekarang juga ada. Bagaimana mensikapinya juga tergantung sejauh mana pemahamannya tentang hidup dan kehidupan. Ada yang jadi stress, ada yang biasa-biasa saja, ada yang justru malah termotivasi.
Faktor Penyebab
Setiap kita pasti pernah mengalami momen di mana kita sudah merencanakan sesuatu dengan matang. Kita menginvestasikan waktu, pikiran, dan sumber daya untuk itu. Semuanya kita lakukan untuk memastikan segala hal berjalan sesuai rencana. Namun seringkali kita terjebak dalam situasi di mana meski telah membuat perencanaan matang, malah kegagalan yang kita temui. Keberhasilan seolah sulit dicapai. Mengapa?
Saya melihat ada beberapa alasan mengapa perencanaan matang tidak selalu menjamin kesuksesan, diantaranya:
Perencanaan matang seringkali didasarkan pada asumsi-asumsi tertentu tentang lingkungan di sekitar kita. Namun, lingkungan bisnis dan kehidupan selalu berubah. Ia dapat mengubah dinamika rencana tersebut. Faktor eksternal seperti perubahan kebijakan, kondisi pasar yang tidak terduga, atau bahkan bencana alam bisa dengan cepat mengubah situasi dan menghancurkan perencanaan yang telah dibuat.
Jika alasan kegagalan karena ini, maka kita harus sudah menyiapkan antisipasi. Fleksibilitas dan kesiapan untuk beradaptasi menjadi kunci untuk menghadapi ketidakpastian. Ketika situasi berubah, kita sudah mengantisipasinya. Penting bagi kita untuk dapat melihat peluang baru dan memodifikasi rencana sesuai dengan perubahan tersebut.
Meskipun telah membuat perencanaan matang, kesalahan perhitungan bisa saja terjadi. Faktor-faktor seperti estimasi yang tidak akurat, penilaian yang kurang tepat, atau kurangnya informasi yang cukup dapat mengakibatkan kesalahan dalam perencanaan. Kadang-kadang keputusan yang lahir dari perencanaan matang juga dapat menimbulkan dampak yang tidak terduga atau tidak diinginkan.
Dalam hal ini kita perlu meninjau dan mengkaji perencanaan secara berkala. Langkah ini dapat membantu mengidentifikasi kesalahan dan memberikan kesempatan untuk melakukan perbaikan. Selain itu, mengumpulkan data dan informasi yang akurat serta meminta masukan dari ahli di bidang terkait juga dapat membantu mengurangi kesalahan perhitungan.
Seringkali, perencanaan matang hanya menjadi “rencana” belaka jika tidak diikuti dengan pelaksanaan yang efektif. Meskipun telah merumuskan langkah-langkah yang detail, kegagalan dalam melaksanakan rencana dengan tepat atau kurangnya komitmen dan konsistensi dalam tindakan dapat menghambat pencapaian kesuksesan.
Oleh karena itu, penting untuk menjaga fokus dan disiplin dalam melaksanakan rencana yang telah dibuat. Mengidentifikasi tugas-tugas yang kritis, mengatur tenggat waktu yang realistis, dan mengalokasikan sumber daya dengan bijaksana dapat membantu mencapai tujuan yang ditetapkan.
Ketika membuat perencanaan matang, seringkali kita cenderung fokus pada aspek teknis dan mengabaikan faktor manusia. Padahal manusia adalah makhluk yang kompleks. Interaksi antar individu, dinamika tim, motivasi, dan perubahan sikap atau kepentingan individu dapat mempengaruhi jalannya perencanaan. Jika tidak memperhitungkan faktor manusia dengan baik, rencana yang seharusnya sukses bisa terhambat oleh konflik internal, ketidakpuasan antar manusia, atau kurangnya keterlibatan dari pihak terkait. Semua ini tentu saja bisa menghambat kesuksesan.
Dalam hal ini, melibatkan stakeholder yang relevan sejak awal dalam proses perencanaan sangat penting. Ini bisa membantu mengidentifikasi dan mengelola faktor manusia yang mungkin mempengaruhi implementasi rencana. Komunikasi yang baik, membangun kepercayaan, dan mempertimbangkan kepentingan semua pihak dapat memperkuat pelaksanaan perencanaan.
Perencanaan Matang Pasti Sukses?
Faktanya, meski perencanaan sudah matang, dan semua faktor penyebab di atas sudah diantisipasi, kegagalan masih juga bisa terjadi. Mengapa? Karena sesungguhnya kehidupan manusia di dunia itu terbagi menjadi 2 lingkaran. Lingkaran pertama adalah lingkaran yang dikuasai manusia, dan lingkuran kedua adalah lingkaran di mana manusia dikuasai.
Pada lingkaran pertama, ini area dimana manusia bisa menguasai. Semua dalam kontrol manusia. Manusia bisa memilih mau maju atau mundur, mau ke kiri atau ke kanan, mau rajin atau malas, mau menembak atau menahan diri, mau belajar atau tidak, mau membunuh atau tidak membunuh, mau bermaksiat atau tidak bermaksiat. Semua itu dalam kontrol manusia. Manusia punya kuasa untuk itu. Dalam aspek itulah manusia dimintai pertanggungjawaban.
Namun ada lingkaran kedua, dimana manusia dikuasai. Manusia tidak memiliki kontrol atas apa yang terjadi terhadap diri dan lingkungannya. Kita merencanakan dan berusaha punya anak cewek, ternyata yang lahir cowok. Kita pengen punya anak cantik, ternyata lahir tidak cantik. Semuanya tidak dalam kuasa manusia. Manusia hanya bisa menerima. Inilah keputusan dari Sang Pencipta. Oleh karena itu manusia tidak dimintai pertanggungjawaban karena jeleknya wajah, jenis kelamin dan hal-hal yang ada di lingkaran kedua.
Kita merencanakan dengan matang, itu berada dalam lingkaran pertama. Tapi bagaimana hasil pelaksanaan rencana itu, apakah sukses atau gagal, ini adalah lingkaran kedua.
Saya kasih contoh sangat sederhana. Anda mau menyeberang jalan, sebuah jalan yang ramai. Jadi tujuan anda adalah sampai seberang jalan. Parameter suksesnya ya anda sampai seberang jalan dengan selamat. Kalau tidak sampai seberang jalan berarti anda gagal. Atau sampai seberang jalan tapi tidak selamat, itu juga gagal.
Kemudian anda susun rencana menyeberang jalan. Harus lihat kiri kanan. Harus memperhatikan kendaraan. Harus tenang tidak tergesa-gesa. Dan lain-lain.
Tibalah pelaksanaan. Anda mengeksekusi rencana menyeberang jalan. Semua rencana yang disusun sudah diperhatikan. Sudah tengok kiri kanan dan sepi, kemudian anda melangkah, eh begitu sampai tengah jalan ternyata ada helikopter jatuh menimpa anda. Anda meninggal di tempat. Gagal. Tidak sukses.
Begitulah hidup di dunia. Manusia bisa berencana. Allah lah pemberi keputusan.
Kesimpulan
Meskipun perencanaan matang adalah langkah penting untuk mencapai kesuksesan, tetap ada faktor-faktor yang dapat menghambat pencapaian tujuan tersebut. Ketidakpastian lingkungan, kesalahan perhitungan, kurangnya pelaksanaan yang efektif, dan tidak memperhitungkan faktor manusia adalah beberapa penyebab umum mengapa perencanaan matang masih bisa gagal. Penting untuk menerima bahwa kegagalan adalah bagian dari proses dan untuk belajar dari kesalahan tersebut. Dengan meningkatkan fleksibilitas, perbaikan perencanaan, komitmen dalam pelaksanaan, serta mempertimbangkan aspek manusia, kita dapat meningkatkan peluang kesuksesan di masa depan.
Perencanaan matang ditambah menyiapkan antisipasi hanya untuk memperbesar peluang sukses. Dan itu memang harus kita lakukan, karena kewajiban kita adalah mengikatkan sebab dengan akibat. Bila ingin pintar ya belajar. Pintar adalah akibat, belajar adalah sebab.
Oleh karena itu, tetaplah siapkan perencanaan dengan matang. Lakukan dengan langkah teknis terbaik. Tapi jangan lupa, kita punya iman kepada Allah. Kita yakin bahwa Allah adalah pemberi keputusan terbaik.
Purwodadi, 14 Juni 2023