IMC

Desain tanpa judul (18)

Medianya Mahasiswa ITB-MG

Oleh: Hadi Tanuji

Dalam kehidupan ini terdapat banyak jenis hubungan. Ada hubungan yang saling menguntungkan dimana setiap pihak mendapatkan manfaat dari hubungan yang dijalin. Ada juga jenis hubungan lain dimana satu pihak merugikan pihak lain.  Artinya dalam suatu hubungan, terdapat sifat menguntungkan dan merugikan antara kedua pihak yang berinteraksi.  Hubungan ini, kita biasa menyebutnya dengan istilah simbiosis.  Kalau kita buka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kita dapati bahwa simbiosis adalah keadaan hidup bersama secara erat antara dua organisme yang berbeda.  Jadi, simbiosis merupakan hubungan yang terjadi antara dua organisme yang memiliki sifat menguntungkan atau merugikan.  Salah satu jenis simbiosis ini adalah simbiosis parasitisme, yang menjadi fokus pada tulisan ini.

Simbiosis parasitisme adalah hubungan antara dua organisme yang menguntungkan bagi salah satunya dan merugikan bagi yang lain.  Simbiosis parasitisme terjadi ketika satu spesies (parasit) hidup bersama atau dalam spesies inang dengan mengorbankan spesies inang tersebut. Dalam simbiosis parasitisme, inang tidak langsung dibunuh oleh parasit. Namun, biasanya inang akan sakit dan semakin lemah dari waktu ke waktu hingga mati.
Lalu apa hubungan antara parasitisme dengan Grobogan? Dan ada hubungan apa pula dengan ITB-MG?

Kalau kita cermati, sebuah hubungan tidak hanya terjadi antara organisme satu dengan organisme lain, tapi bisa juga terjadi antara kota dengan kota, kota dengan kabupaten, negara dengan negara dan lain-lain.  Dalam hubungan antar kota atau kabupaten, hubungan sangat mudah dilihat pada bidang pendidikan, di sini penulis sebagai praktisi pendidikan mencermati dari sisi pendidikan saja.  Secara sederhana hubungan ini terbentuk karena adanya kebutuhan terhadap pendidikan tinggi yang biasanya ada di kota-kota besar. Hal ini menyebabkan hengkangnya SDM lulusan SMA atau yang sederajat dari kota-kota kecil menuju kota-kota besar demi menempuh pendidikan tinggi.  Alasannya jelas, di kota-kota besarlah bercokol kampus-kampus besar yang berkualitas. Para lulusan SMA berbondong-bondong menuju ke sana untuk kuliah, yang kebanyakan tidak pulang lagi ke daerah asalnya setelah mereka lulus. Di sini, kota besar menjadi “parasit” dengan menyerap banyak sekali SDM berkualitas dari kota kecil.  Kota kecil kekurangan SDM berkualitas karena diserap oleh kota besar.  Lantas bagaimana dengan kabupaten Grobogan? Ya sama saja dengan kota atau kabupaten kecil lainnya, dalam hal ini kabupaten Grobogan termasuk yang dirugikan. 

Hal ini senada dengan yang disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P, saat acara groundbreaking Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah Grobogan (ITB-MG) pada tanggal 23 Mei 2023 lalu. Pada acara yang juga dihadiri oleh anggota DPR RI Komisi IX Dr. H. EDY WURYANTO, S.KP., M.Kep, Kepala BKKBN Pusat Dr. (H.C) dr. Hasto Wardoyo, Sp.O.G. (K)., Bupati Grobogan Sri Sumarni, S.H., M.M., Menko PMK menyampaikan bahwa saat ini kota besar menjadi parasit bagi kota-kota kecil, dengan cara menyerap SDM berkualitas karena ketiadaan perguruan tinggi yang menjadi daya tarik di kota-kota kecil.

Dengan memahami fakta-fakta yang terjadi dan dari apa yang disampaikan Menko PMK, faktor penyebab terjadinya fenomena parasitisme ini secara khusus dapat dianalisis menggunakan model bipolar yaitu menggunakan pendekatan faktor penarik dan pendorong (pull-push approach).  Faktor penarik adalah faktor yang berasal dari sisi eksternal atau kota besar atau kota tujuan. Keadaan kota besar yang sudah mapan di berbagai bidang seperti ekonomi, sosial, infrastruktur dan utamanya adalah pendidikan menarik minat SDM di kota kecil untuk berpindah ke kota besar. Hal tersebut karena SDM tersebut menginginkan lingkungan, dan prospek pendidikan yang lebih mendukung masa depan mereka. Kemudian faktor pendorong berasal dari kota kecil. Faktor yang mendorong fenomena parasitisme kota besar terhadap kota kecil di bidang pendikan secara umum disebabkan oleh globalisasi ekonomi dunia yang telah memperkuat kecenderungan manusia untuk berpindah ke lingkungan yang lebih baik dan dapat mendukung masa depan mereka, sementara mereka tidak mendapati itu semua di kota tempat tinggal mereka.

 Terus, apa hubungan parasitisme di kabupaten Grobogan dengan ITB-MG?

Nah disinilah harapan besar disematkan dengan adanya ITB-MG. Keberadaan ITB-MG diharapkan dapat mengatasi kesenjangan pendidikan utamanya pendidikan tinggi di kabupaten Grobogan.  Seperti yang disampaikan Menko PMK, “Harus ada perguruan tinggi yang memiliki daya tarik di sini, yaitu ITBM Grobogan ini saya rasa menjadi pilihan yang tepat”.

Oleh karena itu jelas, ITB-MG mendapat amanah berat untuk membantu mengatasi parasatisme bidang pendidikan yang tengah terjadi di kabupaten Grobogan. Semoga bisa tercapai.