Begitu lulus kuliah dulu, saya mencoba bekerja sebagai penulis artikel lepas. Berbekal ilmu dari jurusan Hubungan Internasional, saya mencoba mengirimkan tulisan-tulisan saya ke berbagai koran. Tema tulisan yang saya tulis seputar konflik di kawasan Timur Tengah.
Setelah hampir tiga bulan lamanya saya mencoba menekuni bidang ini, saya frustasi. Banyak artikel yang saya kirim, sayangnya tidak satu pun yang dimuat. Entah apa yang kurang. Saya pusing dan memutuskan mencari penghasilan dari bidang lain.
Walaupun sudah tidak lagi menjadi penulis lepas, minat saya pada isu kawasan Timur Tengah tetap ada. Karena itu ketika ada kesempatan meneruskan program pasca sarjana untuk kajian kawasan Timur Tengah, saya ambil kesempatan tersebut.
Selama masih kuliah itu, saya kembali mencoba mengirim artikel-artikel saya ke beberapa koran. Olala, ternyata artikel saya kali ini dimuat. Yang pertama dan paling sering memuat adalah koran Pikiran Rakyat di Jawa Barat. Sampai kemudian artikel saya pernah tembus di koran Kompas.
Rasanya, bobot substansi artikel saya yang dimuat tidak banyak berbeda dengan artikel saya sebelum-sebelumnya yang tidak dimuat itu. Lalu apa kemudian pembedanya? Yang menjadi pembeda, di setiap akhir artikel itu saya tambahi catatan bahwa saya adalah mahasiswa Universitas Indonesia yang sedang mengambil program master bidang kajian Timur Tengah.
Profil itulah saya kira yang menjadi pembeda dan yang mempengaruhi keputusan dewan redaksi untuk memuat tulisan saya. Seandainya tidak ada tambahan profil tersebut, mungkin artikel saya tidak akan dimuat. Jadi saya terbantu karena ada “nama besar” yang saya cantolkan di belakang saya, yang sebelumnya tidak saya miliki. Nama besar yang mengerek kredibilitas diri saya itu adalah cantolan saya.
Kadang orang terlihat “besar”, bahkan melebihi kapasitas dirinya yang sebenarnya, karena kebetulan dia memiliki cantolan yang besar/kuat. Yang tanpa cantolan ini, orang mungkin tidak banyak yang mengenal atau mengakui kapasitasnya. Cantolan ini bisa jadi berbentuk institusi yang kredibel, lembaga yang memiliki kewenangan tertentu, perusahaan raksasa, jaringan media yang kuat, orangtua yang terpandang, nama baik keluarga atau atribut-atribut lainnya. Contoh lain, orang yang kecerdasannya biasa-biasa saja mendadak bisa dianggap cerdas karena kebetulan dia bekerja sebagai dosen atau peneliti di sebuah lembaga yang terpandang.
Memiliki cantolan ini dalam banyak hal bisa membantu, umpamanya dalam mencari peluang usaha bagi calon wirausahawan baru. Terkadang, mencari peluang usaha itu seperti kita mencari celah. Yang namanya celah pastilah sempit. Saking sempitnya, kita sampai sulit melihatnya. Ada orang yang mungkin insting bisnisnya kuat sehingga ia bisa melihat dengan jeli suatu peluang usaha yang mana tidak sanggup dilihat oleh orang lain.
Jika mencari peluang usaha itu dengan cara mencari apa yang belum dikerjakan orang lain, maka peluang ini kelihatannya akan sulit kita dapatkan. Di zaman sekarang ini, hampir semua jenis pekerjaan sudah dilakukan orang. Dengan tingkat persaingan yang ketat, pemain baru yang mencari peluang dengan pengalaman yang minim akan membuat nyali menjadi ciut. Ujung-ujungnya tidak jadi buka usaha.
Di saat seperti inilah orang butuh cantolan untuk memberanikan diri melangkah. Cantolan di sini bisa jadi berupa teman, tetangga, keluarga yang sudah berbisnis sebelumnya dan sebagainya. Yang perlu Anda lakukan adalah berguru kepada mereka. Anda serap keahlian mereka dan belajar dari pengalaman panjang yang telah mereka lewati hingga bertahan dalam bisnis mereka. Tidak perlu bingung mencari apa yang gak ada. Yang Anda temui dan hadapi di depan Anda pada hakekatnya merupakan cantolan yang bisa Anda gunakan untuk menemukan usaha.
Bentuk cantolan yang lain adalah bisnis yang ada sekarang. Usaha yang sudah berjalan baik bisa dijadikan cantolan bagi pelebaran usaha di bidang lain. Pertama, karena Anda sudah memiliki gambaran pola kerja yang usaha yang baru itu. Kedua, pelebaran usaha lain yang masih terkait akan mendukung usaha yang sudah ada. Ketiga, akan mengurangi proses pembelajaran dan pengorbanan yang dibutuhkan. Termasuk dalam bentuk ini adalah membeli hak waralaba atau menjadi agen perusahaan yang memiliki reputasi baik.
Tawassul dalam syareat Islam juga merupakan salah satu bentuk cantolan. Nabi Adam dulu memohon ampunan Allah dengan cara bertawassul ke Rasulullah dan ahlul baitnya. Tatkala kota Mekah mengalami paceklik, Umar bin Kattab bertawassul ke Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi saw. Saudara-saudara Nabi Yusuf juga bertawassul ke Nabi Yaqub untuk memohonkan ampunan bagi mereka. Berkaca dari para pendahulu kita, bertawassul atau berdoa dengan mencantol kepada orang-orang yang dekat secara spiritual kepada Allah mudah-mudahan bisa memudahkan urusan kita.
Kombinasi kerja keras dan kerja cerdas dengan memanfaatkan cantolan yang ada akan memperbesar prosentase keberhasilan usaha Anda. Silakan cari cantolan yang bisa Anda dapatkan, apapun bentuknya. Asal jangan cantolan jemuran tetangga yang Anda ambil. Repot urusannya..
Oleh : Kang Mus