Oleh: Hadi Tanuji
Sore itu selepas sholat asar saya berangkat menuju pondok pesantren tempat 2 anak saya belajar. Rumah saya di Bandung Timur, sementara anak saya mondok di sebuah daerah di Jatinangor kabupaten Sumedang. Hari ini adalah waktunya saya nengok mereka sambil ngantar uang untuk keperluan sehari-hari.
Seperti biasa saya menjalankan motor dengan santai diiringi gerimis tipis. Kalau sudah rindu, gerimis tipis gak jadi masalah. Nah saat mau melintas perbatasan Cileunyi – Jatinangor saya melihat seorang anak kecil bersarung dengan peci di kepalanya. Kira-kira berumur 11 atau 12 tahun, dengan badan kurus dan wajah agak tirus. Berdiri di tengah gerimis, dia nampak kecil di tengah ramai orang yang sedang menunggu kendaraan umum. Kulihat dia melambaikan tangannya ke saya. Awalnya saya bingung, apa saya kenal dia? Kenapa dia manggil saya? Ah gak ada salahnya saya samperin, akhirnya saya tepikan motor dan menghampirinya.
“Ada apa dik?” saya mencoba berkomunikasi dengannya.
“Om, bisa ikut numpang ke depan?” katanya sambil menahan dingin.
Lansung saja tanpa ba bi bu be bo saya jawab “ayo naik”
Sambil ngejalanin motor saya coba buka komunikasi “Emang mau kemana dik?” saya teriak agak keras untuk melawan suara angin dan kendaraan di sekitar.
“Mau balik ke pondok om”
“ Lha emang pondoknya dimana?” tanya saya penasaran.
“Di Majalaya om”
“Hah… Majalaya?” saya kaget. Dari posisi saat ini sampai ke Majalaya jaraknya masih sekitar 20 km lagi. Padahal rute yang harus saya lalui nggak searah dengannya. Kurang lebih 500 meter ke depan saya harus pisah jalan dengannya. Saya lurus menuju pondok pesantren anak saya, sementara di daerah persimpangan Kiarapayung dia harus belok kanan menuju pondoknya di Majalaya.
Dengan penasaran saya coba nanya-nanya. “Tadi berangkat dari mana?”
“Dari Mohammad Toha om” jawabnya.
“Mohammad Toha ke cileunyi naik apa?” tanya saya lebih lanjut
“Jalan kaki”.
Yaa Allah… anak sekecil ini jalan kaki dari Muhammad Toha, berencana mau ke Majalaya.
“Emang gak dikasih uang sama bapak?” saya coba menyelidik.
“Bapak Ibuk lagi gak ada uang om, jadi disuruh berangkat jalan kaki”.
“Bapak kerja apa?” saya masih penasaran, jiwa kebapakan saya terusik. Masa ada bapak rela melepas anaknya yang masih kecil pergi berangkat ke pondok jalan kaki dengan jarak sejauh itu ,,,, tanpa dipegangi uang saku!!!
“Bapak narik ojek, tapi ini lagi sakit, jadi libur narik” jawabnya pelan.
Maasya Allah … luar biasa anak ini. Berangkat menuju pondok tempatnya menuntut ilmu, jalan kaki dari Muhammad Toha Bandung menuju Majalaya, tanpa bekal uang sepeserpun.
Tak terasa mata saya menjadi kabur, berkaca-kaca. Akhirnya saya ajak mampir warung makan dulu, soalnya nampak dia nahan lapar.
Di warung kami ngobrol. Jadi ceritanya anak ini bernama Taufik, santri di salah satu pondok pesantren di daerah Majalaya. Dia baru 1 bulan mondok, karena kangen keluarga dan habis uang bekalnya, dia pulang ke rumah di daerah moh toha … jalan kaki. Tujuannya pulang selain melepas rindu, adalah untuk minta uang saku buat bekal di pondok. Tapi apa daya, sampai rumah bapak ibunya juga lagi gak pegang uang. Jadilah dia hanya bisa melepas rindu, tapi tidak untuk uang saku. Walhasil, akhirnya dia harus balik lagi ke pondok … jalan kaki lagi.
…
Kisah ini awalnya akan saya simpan untuk diri sendiri sebagai bahan renungan pribadi. Tapi setelah saya pikir-pikir, kisah Taufik ini bisa menjadi teladan bagi banyak orang. Bahwa untuk mencapai cita-cita dibutuhkan keteguhan. Setiap orang punya masalah, punya keterbatasan. Namun keterbatasan yang kita miliki tidak selayaknya menjadi halangan untuk terus bergerak maju. Akan selalu ada masalah saat orang mengejar mimpi. Tapi dengan sikap optimis, tidak putus asa, tidak mengasihani diri sendiri dan selalu berprasangka baik kepada Allah, niscaya semua masalah akan bisa diatasi.
Kisah ini menyadarkan saya, bahwa setiap keberhasilan memiliki jalannya masing-masing. Ada yang mulus tanpa hambatan berarti, dengan hanya sedikit onak duri di sepanjang jalan yang dilewati. Namun ada juga yang penuh liku, terjal dan mendaki, bahkan proses itu begitu panjang hingga harus melewati masalah dan hambatan yang tidak sedikit, berkali-kali, lagi lagi dan lagi.
Kisah ini juga mengingatkan saya dan mungkin anda, bahwa setiap masalah pasti ada hikmah di baliknya. Dan setiap kali berhadapan dengan sebuah masalah, bila kita bisa menyikapinya dengan baik dan optimis, maka energi kita akan berlipat untuk bisa menghadapi dan menyelesaikannya.
Tentu saja, setiap diri kita memiliki kesiapan yang berbeda dalam menghadapi sebuah masalah. Sebagian orang bisa menghadapi masalah dengan baik, tapi tidak untuk sebagian yang lain. Tapi bukankah kita harus selalu yakin bahwa di balik setiap kepayahan itu adalah sebuah kemudahan? Dan hanya Allah lah penentu hasil akhir dari sebuah proses panjang perjuangan manusia… maka pilihan kita hanya harus terus berusaha, tidak menyerah dengan keadaan dan selalu yakin rahmat Allah akan menyertai hamba-Nya.
Saat kita harus sampai di seberang
Kadang ada bukit terjal menghadang
menghalangi jalan menuju seberang
Tapi adanya bukit tak selalu berarti bahwa kita harus berhenti
Karena bukit diciptakan untuk mereka para pendaki,
karena bukit ada untuk menguji para pemberani,
untuk melewatinya,
untuk mendakinya lagi, saat ia terpeleset dan jatuh…
Jadi, emang kenapa kalau ada bukit? Toh Allah memberi kita kaki untuk mendaki.
Setelah payah mendaki, yakinlah di balik jalan menanjak, ada jalan turun menuju seberang…
inna ma’al-‘usri yusra: “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”